Selasa, 14 November 2017

MSI (SUMBER AJARAN ISLAM)

SUMBER AJARAN ISLAM

Disusun oleh :

Kelompok : 4

1. Muhammad Ridha
2. Muhammad Rayyan Huzaifi
3. Muhammad Sholifuddin
4. Rahmatullah


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
RASYIDIYAH KHALIDIYAH
AMUNTAI
2017


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah agama yang sempurna yang tentunya sudah memiliki aturan dan hukum yang harus dipatuhi dan dijalankan oleh seluruh umatnya. Setiap aturan dan hukum memiliki sumber-sumbernya sendiri sebagai pedoman dan pelaksananya. Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang lebih baik, sejahtera lahir dan batin.
Untuk itu kita sebagai umat Islam yang taat harus mengetahui sumber-sumber ajaran Islam yang ada, serta mengetahui isi kandunganya. Namun sumber-sumber tersebut tidak hanya di jadikan sebagai pengetahuan saja, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Petunjuk-petunjuk agama yang mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat dalam sumber ajarannya, yaitu Al-Qur’an yang merupakan sumber ajaran Islam pertama dan Hadist merupakan sumber yang kedua, tampak ideal dan agung. Ditambah lagi dengan berbagai pemikiran-pemikiran ulama’ tentang hukum-hukum yang masih global di pembahasan Al-Qur’an dan Hadist.
Al-Qur’an adalah kitab suci yang isinya mengandung firman-firman Allah SWT turun secara bertahap kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat jibril. Sunnah adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad SAW baik perbuatan, perkataan, dan penetapan pengakuan. Islam mengajarkan kehidupan yang damai, menghargai akal pikiran mengenai berbagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, menghormati antar agama, berakhlak mulia, dan bersikap positif lainnya.
B. Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan Al-Qur’an?
Apa yang dimaksud dengan As-Sunnah?
Apa yang dimaksud dengan Ijtihad?
C. Tujuan Masalah
Mengetahui pengertian Al-Qur’an.
Mengetahui pengertian As-Sunnag.
Mengetahui pengertian Ijtihad.


BAB II
PEMBAHASAN
SUMBER AJARAN ISLAM
Al-Qur’an
Secara etimologis kata Al-Qur’an berasal dari bahasa arab yang al-qur’an berarti bacaan. Sedangkan menurut istilah al-qur’an adalah sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril dengan menggunakan bahasa arab sebagai hujjah (bukti) atas kerasulan Nabi Muhammad SAW dan sebagai pedoman hidup bagi manusia serta sebagai media dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan membacanya.
Al-Qur’an itu ialah kitab Suci yang diwahyukan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia dalam hidup dan kehidupannya.
Pendapat para ahli mendifinisikan alquran:
Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut:
“Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”.
Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut:
"Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas"
Secara etimologi Alquran berasal dari kata qara’a, yaqra’u, qiraa’atan, atau qur’anan yang berarti mengumpulkan (al-jam’u) dan menghimpun (al-dlammu). Sedangkan secara terminologi (syariat), Alquran adalah Kalam Allah ta’ala atau mu’jizat yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam,yang ditulis dalam mushaf diriwayatkan  secara mutawatir dan membacanya ibadah,dan diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas. Dan menurut para ulama klasik, Alquran sumber agama (juga ajaran) Islam pertama dan utama yang memuat firman-firman (wahyu) Allah, sama benar dengan yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah sedikit demi sedikit selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, mula-mula di Mekah kemudian di Madinah.
Al-Qur’an menyajikan tingkat tertinggi dari segi kehidupan manusia. Sangat mengaggumkan bukan saja bagi orang mukmin, melainkan juga bagi orang-orang kafir. Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan (Nuzulul Qur’an). Wahyu yang pertama kali turun tersebut adalah Surat Alaq, ayat 1-5.
Dasar penggunaan sumber agama islam di dasarkan ayat al-qur’an surat An-Nisa ayat 59 yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasulmu. Dan ulil amri diantara kamu. Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Al-Qur’an ) dan rasul ( Sunnah ). Jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa:59)
Adapun fungsi Al-Quran antara lain;
Sebagai Furqon (pembeda antara haq dan yang bathil, baik dan buruk)
Sebagai obat penyakit (jiwa) (QS. 10: 57)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌۭ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌۭ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًۭى وَرَحْمَةٌۭ لِّلْمُؤْمِنِينَ
artinya
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus ayat 57)
Sebagai pemberi kabar gembira (QS. An-Nahl ayat 102)
Sebagai hidayah atau petunjuk (QS. Al Baqarah ayat 2)
Sebagai peringatan (QS. Taha ayat 113)
Sebagai cahaya petunjuk (QS. Asy-Syura ayat52)
Sebagai pedoman hidup (QS. Al-Jasiyah ayat 20)
Unsur-unsur pokok yang menjelaskan hakikat Al-Qur’an:
Merupakan kalam Allah yang berbentuk lafazh (sekaligus makna)
Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
Menggunakan Bahasa Arab
Mengandung mukjizat pada setiap ayat dan suratnya
Tertulis dalam mushaf
Membaca Al-Qur’an bernilai ibadah
Ayat-ayat Al-Qur’an dinukil secara mutawatir(tidak diragukan keautentikannya.
Pembagian ayat-ayat al-qur’an:
Periode ketika Nabi masih berada di mekkah
Ayat al-qur’an yang turun disebut ayat makiyyah
Ciri : surahnya pendek-pendek, didahului dengan kata ya ayyuhannas, berisi masalah keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat terdahulu, dan budi pekerti.
Ketika Nabi sudah hijrah ke madinah
Ayat yang turun disebut ayat madaniyah
Ciri : surahnya panjang-panjang, didahului dengan ya ayyuhalladzina amanu, berisi tentang hukum-hukum syariat
Isi al-qur’an :
Prinsip-prinsip aqidah, syari’ah, dan akhlak
Janji-janji dan ancaman Allah
Kisah-kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu
Hal-hal yang akan terjadi dimasa datang
Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan
Sunnatullah atau hukum Allah yang mengikat pada keseluruhan ciptaan-Nya.
As-Sunnah Atau Al-Hadist
Secara etimologis kata Sunnah berasal dari kata bahasa arab yang berarti cara, adat istiadat (kebiasaan), dan perjalanan hidup (sirah) yang tidak dibeda-bedakan antara yang baik dan yang buruk. Sedangkan secara Terminologi menurut ahli hadist sunnah berarti sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad SAW yang berupa perkataan, perbuatan, sifat, dan perjalanan hidup beliau baik  pada waktu sebelum diutus menjadi Nabi maupun sesudahnya.
Sunnah adalah sumber asasi dan sumber hukum islam yang kedua sesudah Qur’an. Kedudukannya sebagai sumber sesudah Qur’an adalah disebabkan karena kedudukannya sebagai juru tafsir, dan pedoman pelaksanaan yang otentik terhadap Qur’an. Ia menafsirkan dan menjelaskan ketentuan yang masih dalam garis besar atau membatasi keumumannya, atau menyusuli apa yang disebut oleh Qur’an.
Fungsi Sunnah sebagai sumber asasi islam dan hukum islam yang kedua ditetapkan sendiri oleh Qur’an. Firman Allah SWT yang artinya “apa yang didirikan rasul kepadamu maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”(QS.Al-Hasyr : 59)
Sabda Rasulullah SAW “kutinggalkan untuk kalian dua perkara atau pusaka, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama kalian berpegang kepada keduanya yaitu kitabullah (Qur’an) dan Sunnah rasulnya.”
Bagian-bagian sunnah atau hadist, yaitu sebagai berikut :
Rawi : orang yang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (gurunya)
Matan : materi atau isi dari suatu hadits
Sanad : jalan yang dapat menghubungkan matan hadist kepada Nabi SAW.
Klasifikasi Sunnah berdasarkan aspek bentuk :
Sunnah qauliyah : ucapan Nabi yang didengar oleh para sahabat dan disampaikan kepada orang lain.
disampaikan kepada orang lain dengan ucapan mereka.
Sunnah taqririyah : perbuatan sahabat atau ucapannya yang dilakukan didepan Nabi yang dibiarkan begitu saja oleh Nabi tanpa dilarang atau disuruh.
Kalisifikasi sunnah berdasarkan jumlah sanad atau perawi yang terlibat dalam periwayatannya :
Sunanh mutawatir : sunnah yang disampaikan secara berkesinambungan yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi yang menurut kebiasaan mustahil mereka bersepakat untuk berdusta.
Sunnah mashur : sunnah yang diriwayatkan oleh sejumlah sahabat yang tidak mencapai batasan mutawatir dan menjadi mutawatir pada generasi setelah sahabat.
Sunnah ahad : sunnah yang diriwayatkan oleh seorang perawi, dua orang perawi atau lebih yang tidak memenuhi persyaratakan sunnah mutawatir.
Berdasarkan aspek kualitasnya (diterima / ditolak)
Sunnah Shahih
Syaratnya : - Sanadnya bersambung
Diriwayatkan oleh perawi yang adil
Perawinya kuat hafalannya
Hadistnya tidak janggal
Hadistnya terhindar dari cacat
Sunnah Hasan
Yaitu sunnah yang memiliki semua persyaratan sunnah shahih kecuali para perawinya, seluruhnya atau sebagiannya kurang hafalannya.
Sunnah Dhaif
Yaitu sunnah yang tidak memiliki sifat-sifat untuk dapat diterima atau sunnah yang tidak memiliki sifat sunnah shahih dan hasan.
Ijtihad
Secara etimologis kata Ijtihad berasal dari bahasa arab yang artinya penumpahan segala upaya dan kemampuan. Sedangkan secara terminologis ulama ushul mendefinisikan ijtihad sebagai mencurahkan kesanggupan dalam hukum syara’ yang bersifat ‘amaliyah.
Ijtihad adalah suatu pekerjaan yang mempergunakan segala kesanggupan daya rohaniyah untuk mengeluarkan hukum syara’, menyusun suatu pendapat dari suatu masalah hukum berdasarkan Qur’an dan Sunnah. Orang yang melakukan ijtihad dinamakan Mujtahid dan persoalan yang dipertimbangkannya disebut Mujtahad Fih.
Metode-metode ijtihad yaitu :
Ijma’
Yaitu persepakatan ulama-ulama islam dalam menentukan sesuatu masalah ijtihadiyah.
Sebagai contoh : fatwa yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat.
Qiyas
Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu hal yang tidak diterangkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan dianalogikan kepada hukum sesuatu yang sudah diterangkan hukumnya oleh Al-Qur’an atau As-Sunnah, karena ada sebab yang sama.
Sebagai contoh : Menurut surah Al-Isra’ ayat 23 seseorang tidak boleh berkata Cis kepada orang tua. Maka hukum memukul, menyakiti, dan lain-lain terhadap orang tua juga dilarang, atas dasar analogi terhadap hukum Cis tadi karena sama-sama menyakiti orang tua.
Istihsan
Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap suatu persoalan ijtihadiyah atas dasar prinsip-prinsip umum ajaran islam seperti keadilan, kasih sayang, dan lain-lain. Oleh para ulama istihsan disebut sebagai qiyas khafi (analogi samar-samar) atau disebut sebagai pengalihan hukum yang diperoleh dengan qiyas kepada hukum lain atas pertimbangan kemaslahatan umum. Apabila kita dihadapkan dengan keharusan memilih salah satu diantara dua persoalan yang sama-sama jelek maka kita harus mengambil yang lebih ringan kejelekkannya. Dasar istihsan antara lain surah Az-Zumar ayat 18.
Sebagai contoh :  menurut aturan syara’ kita dilarang mengadakan jual beli yang barangnya belum ada saat terjadi aqad akan tetapi menurut istihsan syara’ memberikan rokhshah bahwa jual beli diperbolehkan dengan sistem pembayaran diawal sedangkan barangnya dikirim kemudian.
Mashlahah Mursalah
Yaitu menetapkan hukum terhadap suatu persoalan ijtihadiyah atas pertimbangan kegunaan dan kemamfaatan yang sesuai dengan tujuan syari’at.
Sebagai contoh :  dilalam Al-Qur’an ataupun Hadist tidak terdapat dalil yang memerintahkan untuk membukukan ayat-ayat al-qur’an. Akan tetapi, hal ini dilakukan oleh umat islam demi kemaslahatan umat.
Istishhab
Yaitu tindakkan dalam menetapkan suatu ketetapan sampai ada alasan yang mengubahnya.
Sebagai contoh :  seseorang yang ragu-ragu apakah ia sudah berwudhu ataupun belum. Disaat seperti ini, ia harus berpegang/yakin kepada keadaan sebelum ia berwudhu, sehingga ia harus berwudhu kembali karena shalat tidak sah apabila tidak berwudhu.
Madzhab Shahabi
Yaitu pendapat sahabat Rasulullah SAW tentang suatu kasus dimana hukumnya tidak dijelaskan secara tegas didalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
Syar’u Man Qablana
Yaitu ajaran-ajaran atau syari’at-syari’at nabi-nabi terdahulu yang berkaitan dengan suatu kasus hukum itu dapat dijadikan acuan dalam istimbath hukum (penggalian hukum) jika termaktub dalam Al-Qur’an serta mempunyai ketegasan bahwa syari’at itu berlaku bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Saddu Az zari’ah
Yaitu secara bahasa kata sad berati “menutup” dan kata Az zari’ah berarti “wahsilah” atau jalan ke suatu tujuan. Dengan demikian saddu Al Dzari’ah secara bahasa berarti menutup jalan kepada suatu tujuan.
Menurut istilah ushul fiqh seperti dikemukakan oleh Abdul Karim Zaidan Saddu Az zari’ah berarti menutup jalan yang membawa kepada kebinasaan atau kejahatan.
Urf (adat istiadat)
Yaitu suatu tindakkan dalam menentukan suatu berkara berdasarkan adat istiadat yang berlaku di masyarakat dan tidak bertentangan dengan al-qur’an dan hadist.
Sebagai contoh :  dalam hal jual beli. Si pembeli menyerahkan uang sebagai pembayaran atas barang yang ia beli dengan tidak mengadakan ijab qabul, karena harga telah dimaklumi bersama antara penjual dan pembeli.

BAB III
KESIMPULAN
Al-Qur’an itu ialah kitab Suci yang diwahyukan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia dalam hidup dan kehidupannya
Sunnah adalah sumber asasi dan sumber hukum islam yang kedua sesudah Qur’an. Kedudukannya sebagai sumber sesudah Qur’an adalah disebabkan karena kedudukannya sebagai juru tafsir, dan pedoman pelaksanaan yang otentik terhadap Qur’an. Ia menafsirkan dan menjelaskan ketentuan yang masih dalam garis besar atau membatasi keumumannya, atau menyusuli apa yang disebut oleh Qur’an.
Ijtihad adalah suatu pekerjaan yang mempergunakan segala kesanggupan daya rohaniyah untuk mengeluarkan hukum syara’, menyusun suatu pendapat dari suatu masalah hukum berdasarkan Qur’an dan Sunnah. Orang yang melakukan ijtihad dinamakan Mujtahid dan persoalan yang dipertimbangkannya disebut Mujtahad Fih.
Metode-metode Ijtihat yaitu : ijma’, qiyas, istihsan, mashlahah mursalah, istishab, mazhab shahabi, syar’u man qablana, saddu az- zari’ah, dan urf.


DAFTAR PUSTAKA
 http://dataukhti.blogspot.com/2012/12/sumber-sumber-ajaran-islam.html 18 Oktober 2013 Pukul 08:06.
2 Nasruddin Razak, Dienul Islam, (Bandung : PT. Alma’arif, 1971),  hlm.86
3 Al-Qur’an, An-nisa : 59
4 Nasruddin Razak, Op.cit, hlm.101
5 Nasruddin Razak, Op.cit, hlm.105
6 Nasruddin Razak, Op.cit, hlm.106
7Miftah Faridl, Pokok-Pokok Ajaran Islam, (Bandung : Pustaka, 2010), hlm.48
8http://grabalong.blogspot.co.id/2015/02/madzhab-shahabi-syaru-man-qablana-sadd.html?m=1
9http://www.fauzulmustaqim.com/2015/11/makalah-tentang-sumber-ajaran-islam.html?m=1

MSI (METODE-METODE DALAM STUDI ISLAM)

METODE-METODE DALAM STUDI ISLAM

OLEH KELOMPOK : 3
Muhammad Syahrawardi
Nur Muhammad Fahmi Abduh
Rahmad Maulidi
Muhamad Yasin

JURUSAN : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( PAI/1 )
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM RASYIDIYAH KHALIDIYAH AMUNTAI
2017

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Islam merupkan sebuah sistem universal yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam Islam, segala hal yang menyangkut kebutuhan manusia, dipenuhi secara lengkap. Semuanya diarahkan agar manusia mampu menjalani kehidupan yang lebih baik dan manusiawi sesuai dengan kodrat kemanusiaannya (Hasan al-Banna, 1976: 2). Jika hal itu dilakukan, maka akan selamat dalam kehidupan dunia dan akhirat. Sebagai sebuah sistem, Islam memiliki sumber ajaran yang lengkap, yakniAl-Quran dan Hadist dalam kehidupannya, maka ia tidak akan pernah tersesat selama-lamanya (HR. Muslim). Al-Quran, dipandang sebagai sumber ajaran dan sumber hukum Islam yang pertama dan utama, sedangkan hadist merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Quran.
Ketika Al-Quran dan hadist dipahami dan dijadikan sebagai obyek kajian, maka muncullah penafsiran, pemahaman dan pemikiran. Demikian juga lahirlah berbagaijenis ilmu Islam yang kemudian disebut “Dirasah Islamiyah” atau Islamic Studies. Jika Al-Quran dan Hadist, dipahami dalam bentuk pengetahuan Islam, maka kebenarannya berubah menjadi relative, dan tidak lagi mutlak. Hal ini karena pemahaman, pemikiran dan penafsiran merupakan hasil upaya manusia dalam mendekati kebenaran yang dinyatakan dalam wahyu Allah (Al-Quran) dan sunnah Rasulullah Saw. Karena produk manusia maka hasilnya relatif bisa benar, tapi juga bisa salah. Bisa benar untuk waktu tertentu, tapi tidak untuk waktu yang lain.
Untuk memahami Al-Quran dan Hadist sebagai sumber ajaran Islam, maka diperlukan bebagai pendekatan dan metode studi Islam yang tepat, akurat dan responsible. Dengan demikian, diharapkan Islam sebagai sebuah sistem ajaran yang bersumber pada Al-Quran dan Hadist, dapat dipahami secara komprehensif.




BAB II
PEMBAHASAN
Metode Dalam Studi Islam
Metodologi berasal dari bahasa Yunani yaitu method dan logos. Method berarti cara, kiat dan seluk yang berkaitan dengan upaya menyelesaikan sesuatu. Logos berarti ilmu pengetahuan, cakrawala dan wawasan. Metodologi berarti pengetahuan tentang metode atau cara-cara yang berlaku dalam kajian atau penelitian. Pendapat lain mengtakan bahwa metodologi adalah pengetahuan tentang metode-metode. Jadi, metodologi penelitian adalah pengetahuan tentang berbagai metode yang digunakan dalam penelitian.
Satu metode saja tidak bisa dipilih untuk mempelajari Islam, karena Islam adalah bukan agama yang monodimensi. Metode-metode ilmiah dalam segala cabang ilmu pengetahuan telah mengalami perubahan dalam perkembangan dan pendekatan-pendekatan telah ditemukan. Dalam penyelidikan tentang agama, jalan-jalan baru harus ditempuh dan metode-metode atau pendektan-pendekatan baru harus dipilih.
Metode Filologi
Kata filologi berasal dari bahasa Yunani Philologia yang berarti cinta kepada bahsa, karena huruf membentuk kata, kata membentuk kalimat, dan kalimat adalah inti dari bahasa. Filologi dipakai dalam arti pengkajian teks atau penelitian yang berdasarkan teks. Metode filologi merupakan metode penelitian berdasarkan analisis teks. Istilah filologi berarti suatu metode yang mempelajari dan meneliti naskah-naskah lama untuk mengerti apa yang terdapat didalamnya sehingga diketahui latar belaang kebudayaan masyarakat yang melahirkan naskah-naskah itu.
Seorang tokoh Islam tenama, Muhammad Arkoun (1994:9) mengemukakan bahwa, “filologi” merupakan kata Yunaniyang secara harfiah berati kesukaan akan kata, dipakai dalam arti pengkajian teks atau penelitian yang berdasarkan teks. Misalnya, dalam bidang ilmu kesusastraan atau ilmu sejarah. Metode filologis adalah metode penelitian berdasarkan analisis teks. Jadi, istilah filologi berarti suatu metode yang mempelajari dan meneliti naskah-naskah lama untuk mengerti apa yang terdapat di dalamnya sehingga diketahui latar belakang kebudayaan masyarakat yang melahirkan naskah-naskah itu.
Metode ini digunakan jika sumber atau data berupa naskah atau manusktrip. Hal ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan secara cermat pemikiran-pemikiran yang terdapat dalam naskah tersebut melalui analisis kosa kata yang digunakan, nuansa-nuansa yang ada di dalamnya sehingga dapat terhindar dari kesalah pahaman pemikiran.
Metode Deskriptif
Deskriptif memiliki arti uraian apa adanya yang berasal dari suatu tempat atau tokoh sebuah peristiwa. Bisa juga berasal dari seorang tokoh yang menyangkut pemikirannya. Metode ini digunakan untuk mengangkat pemikiran yang diteliti. Karena tujuannya inilah, maka yang dilakukan hanya menggunakan pemikiran pengarang.
Metode ini digunakan jika peneliti ingin mengangkat sosok pemikiran yang diteliti. Karena tujuannya yang seperti itu, maka yang dilakukan hanya menggunakan pemikiran pengarang dengan cara menjelaskan dan menghubugkan secara cermat data dalam bentuk-bentuk penyataan dan rumusan-rumusan pendapat. Selanjutnya, jika penelitian ingin diperdalam pada implikasi-implikasi logis maupun emperik, maka dilakukan analisis rasional kosa kata atau sosial empirik.
Metode Komparatif
Komparatif artinya perbandingan antara yang satu dengan yang lainnya. Metode perbandingan dimaksudkan untuk menemukan tipe, corak atau kategori suatu pemikiran, kemudian memposisikannya dalam peta pemikiran secara umum.
Yang dilakukan dalam metode pebandingan adalah, pertama-tama mengemukakan teori induk yang menggambarkan tipologi atau aliran-aliran pemikiran dengan berbagai indikatornya. Teori ini kemudian digunakan untuk mendeduksi pemikiran dengan berbagai indikatornya. Teori ini kemudian digunakan untuk mendeduksi pemikiran yang telah direkontruksi (dibangun kembali).
Metode Hermeneutika
Metode hermeneutika dimaksudkan untuk menemukan hubungan pemikiran yang diteliti dengan gejala-gejala sosial yang ada. Hermeneutik adalah studi tentang prinsip-prinsip metodologi interpretasi dan eksplanasi khususnya kajian tentang prinsip-prinsip umum interpretasi kitab suci. Teks bukan sebuah warisan yang hanya bermakna saat dijabarkan secara harfiyah, tetapi sebuah proses pemaknaan yang amat mengandaikan subjek sebagai perespons  dan konteks sosial yang melingkupinya.
Penerepan hermeneutik cukup luas pada ilmu-ilmu kemanusiaan, seperti sejarah, agama, filsafat, seni, sastra dan lain sebagainya. Disiplin ilmu yang pertama yang banyak menggunakan hermeneutik adalah ilmu tafsir kitab suci. Sebab semua karya yang mendapatkan inspirasi Ilahi Al-Quran supaya dapat dimengerti memerulkan interpretasi atau hermeneutik. Teks sejarah yang ditulis dalam bahasa yang rumit yang beberapa abad tidak dipedulikan oleh para pembacanya, tidak dapat dipahami dalam kurun waktu seseorang tanpa penafsiran yang benar. Istilah-istilah yang dipakai mungkin ada kesamaannya, tetapi arti atau makna istilah-istilah itu bisa berada.
Contoh dari penggunaan hermeneutik dalam kajian Islam adalah dalam tulisan yang berjudul Memahami Matan Hadis lewat Pendekatan Hemeneutik (Stud Hadis tentang Amalan Utama, Larangan Wanita Pergi Sendirian, Larangan Melukis). Dalam perspektif ini, hadis bagaiakan cermin yang sanggup memantulkan berbagai wajah dengan orang yang datang bercermin atau berdialog dengannya. Artinya sebuah matan hadis tidak mesti dipahami dalam bentukpemahaman yang monolitik, seragam dan given dari varian mazhab-mazhab yang ada. Penafsiran dan pemaknaan yang muncul dari sebuah hadis sangat dipengaruhi oleh alam pikiran, budaya, dan bahasa pihak pembacanya. Pemahaman dan penafsiran hadis yang bersifat multi dimensi, pluralistic dan memiliki fusion of horizon bagi pembaca yang hidup pada zaman yang bebeda, tentunya melahirkan penafsiran yang berbeda pula.
Metode Fenomenologi
Metode fenomenologi digunakan untuk mancari hubungan-hubungan pemikiran dengan kondisi-kondisi sosial yang ada sebelum dan sesudah pemikiran itu muncul. Metode fenomenologi merupakan metode yang didasari oleh filsafat fenomenologi, yaitu mengajarkan pada pentingnya melihat gejala yang tampak dari sebuah entitas untuk menafsirkan alam pemikiran yang berkembang dalam entitas tersebut. Jika fenomenologi digunakan dalam mengkaji Islam berarti seorang peneliti memahami dan menganalisis Islam bukan atas dasar nilai-nilai yang tertuang dalam teks yang bersifat normatif, namun bagaimana seorang peneliti memahami dan menganalisis Islam berdasarkan apa yang dipahami dan diamalkan oleh umatnya.
Metode fenomenologi jika diterapkan pada wilayah keagamaan, terlalu menekankan hal-hal yang abstrak sehingga kurang mempunyai kerangka etispragmatis, seperti teologi. Karena itu, dalam wacana studi keislaman, pendekatan ini harus dikompromikan. Hubungan antara keduanya dapat diumpamakan seperti pure sciences (fenomenologi) dan applied sciences (teologi), sehingga keduanya bisa saling mengisi dan memperkuat.
Dengan demikian Islam dipahami bukan dari sumber ajaran atau doktrin berupa Al-Quran dan Sunnah, tapi Islam dipahami dari praktek yang ditampilkan oleh penganutnya.
Metode Mistikal
Metode mistikal merupakan metode memehami Islam dari perspektif mistik. Mistik identik dengan hal-hal yang supranatural, irrasional, tetapi empiric. Ini menjadi sebuah demensi yang menarik. Ternyata dalam Islam, tidak aspek realitas logis empiris yang harus dofahami, tetapi juga adanya aspek mistikal-supranatural yang juga harus dikaji. Tentu saja tidak mengunakan kaidah-kaidah ilmiah yang logis-rasional, empiris, tetapi mengunakan kaidah mistik, yang paradigmanya berbeda dengan paradigma sins-ilmiah.
Dalam hal ini, misalnya kita bisa memahami adalah dalam memahami mukjizat yang diberikan Allah untuk para Nabi & Rasul. Nabi Ibrahim dibakar di tengah bara api yang besar tetapi tidak hangus, Nabi Musa bisa mengubah tongkatnya menjadi ular, Nabi Muhammad Saw. Melemparkan pasir ke arah kaum kafir Quraisy sehingga mereka tertidur pulas, ketika beliau akan hijrah ke Madinah. Begitu juga dengan contoh lain. Hal ini bisa dipahami melalui metode mistik, meskipun hal ini bagian dari Mukjizat.
Metode Holistik
Metode holistik merupakan gambaran dari beberapa metode yang dimaksudkan untuk melihat semua aspek yang terdapat dalam suatu pemikiran. Cara berpikir deduktif digunakan untuk membuat tipologi, pebandingan digunakan untuk melihat pengaruh-pengaruh, dan hermeneutika digunakan untuk menemukan hubungan pemikiran dengan gejala-gejala sosial yang ada, sehingga pemahaman tentang Islam akan semakin integral dan komprehensif.
Dengan metode holistik (menyeluruh) tentang Islam, maka Islam sebagai ajaran yang universal dapat dipahami secara utuh dan integral melalui pendekatan dan metode yang akurat, sesuai dan tepat. Hal ini juga untuk menghindari dari pemahaman yang parsial (sepotong-potong), tidak utuh, tidak sistematis, dan tidak universal.
Metode Filsafat
Metode filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universa ldengan meneliti akar permasalahannya. Metode ini bersifst mendasar dengan cara radikal dan integral, karena memperbincangkan sesuatu dari segi esensi (hakikat sesuatu). Harun Nasution (1979:36) mengemukakan bahwa befeilsfat intinya adalah berfikir secara mendalam, seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya, tidak terikat kepada apapun, sehingga sampai kepada dasar segala dasar.
Filsafat adalah suatu cabang ilmu pengethuan yang membahas segala sesuatu dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan sedalam-dalamnya, sejauh di dalam jangkauan kemampuan akal budi manusi. Hubungan/ikatan filsafat dengan agama adalah kedua-duanya mencari kebenaran yang sedalam-dalamnya. Bedanya filsfat dengan akal budi manusia, sedangkan agama berdasarkan kepada kepercayaan (wahyu).
Untuk mencari kebenaran, diperlukan pendekatan dan metode ilmiah. Pendekatan ialah suatu sikap ilmiah (persepsi) dan seseorang yang harus ditunjukkan untuk menemukan kebenaran ilmiah yang hendak dicapai. Sedangkan metode adalah sarana, atau cara untuk memperoleh kebenaran ilmiah. Pendekatan dan metode erat hubungannya. Pendekatan bersifat umum. Dalam suatu pendekatan tertetu dapat dipergunakan bemacam-macam metode. Filsafat menggunakan menggunakan pendekatan yang bersifat rsdikal, kritis reflektif, dan integratif.
Adapun metode khusus yang lazim dipakai dalam filsafat, diantaranya adalah sebagai berikut:
Metode Socrtes
Metode ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan yang dapat menimbulkan pertanyaan berikutnya dan jawabannya sekali. Semacam dialog secara kritis, si penanya menemukan jawaban sendiri.
Metode Dialektis
Metode ini sudah dipakai sejak Aristoteles. Suatu metode dengan proses dialektika. Menurut Aristotele, dialektika  merupakan pemikiran yang logis. Sekarang dialektika dipakai oleh Hagel dalam berfikir/pemikran bertahap melalui trilogy yakni these-anti these-synthesa.
Metode Fenomenologi
Metode ini terkenal diepergunakan dalam filsafat dan sosiologi. Metode ini bertitik tolak dari fenomena-fenomena, dan berusaha menemukan inti/hakikat yang ditujukan melalui fenomena-fenomena tersebu  (Abuy Sodikin, 200:10-11).


















BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
Metode adalah suatu ilmu yang memberi penjelasan tentang sistem dan langkah yang harus ditempuh dalam mencapai suatu penyelidikan keilmuan.
Metodologi berarti ilmu tentang cara-cara untuk sampai pada tujuan.
Metodologi dalam hal pemahaman Islam digunakan untuk mengetahui metode-metode yang tepat agar dapat diperoleh hasil yang utuh dan objektif dalam pemahaman Islam.
Ada beberapa metode yang dipakai dalam studi Islam, seperti:
Metode Filologi
Metode Deskriptif
Metode Komparatif
Metode Hermeneutik
Metode Fenomenologi
Metode Mistikal
Metode Filsafat







DAFTAR  PUSTAKA

-Prof. Dr. SUPIANA, M.Ag, Metodologi Studi Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017
-KHOIRIYAH, Memahami Studi Islam: Suatu Konsep tentang Seluk Beluk Pemahaman Ajaran Islam, Studi Islam dan Isu-isu Kontemporer dan Studi Ilsam, Yogyakarta: Teras
-http://wwwhufron.blogspot.co.id/2015/03/metode-metode-dalam-memahami
ajaran.html?m=1 ( di akses tanggal 25 september 2017 )

MSI (KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA )

Di susun oleh:
Kelompok: I (Satu)
-Taupik Rahman
-Tajeli
-Safri

Lokal: A/9
Jurusan: PAI
Semester: I (Satu)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM RASYIDIYAH KHALIDIYAH AMUNTAI  TAHUN AKADEMIK 2017/2018

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

BAB II : PEMBAHASAN
A. Kebutuhan Manusia Terhadap Agama Islam
B. Latar Belakang Perlunya Manusia Terhadap Agama

BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

Assalamu’alaikum wr.wb

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Kebutuhan Manusia Terhadap Agama meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak selaku Dosen mata kuliah Metodologi Studi Islam yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
 Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai Pembahasan Tentang Kebutuhan Manusia Terhadap Agama. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
            Seperti makhluk-makhluk lainnya, manusia adalah ciptaan Allah, Manusia mempunyai dua fungsi sebagai makhluk individu dan sosial. Dalam fungsinya sebagai makhluk individu, manusia mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, misalnya pendidikan, kesehatan, kebahagian dan sebagainya, sedangkan secara sosial manusia memerankan fungsinya sebagai makluk sosial yang hidup dan berinteraksi dengan masyarakat.
Manusia mempunyai kecenderungan untuk mencari sesuatu yang mampu menjawab segala pertanyaan yang ada dalam benaknya. Segala  keingintahuan itu menjadikan manusia gelisah dan mencari pelampiasan dengan timbulnya irrasionaltas. Munculnya pemujaan terhadap sesuatu yang tidak di ketahui. Rasa takut terhadap sesuatu itu menjadikan manusia beragama
.

BAB II
PEMBAHASAN

A. KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA
Pengertian agama dari segi bahasa dapat kita ikuti anatara lain uraian yang diberikan Harun Nasution . Menurutnya, dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata din ( دين ) dari bahasa Arab dan kata religi dalam bahasa Eropa. Menurutnya, agama berasal dari kata Sanskrit. Menurut satu pendapat, demikian Harun Nasition mengatakan, kata itu tersusun dari dua kata, a = tidak dan gam = pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun-temurun. Selanjutnya din dalam kata sempit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukan, patuh, utang, balasan, dan kebiasaan. Pengertian ini juga sejalan dengan kandungan agama yang di dalamnya terdapat peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi penganut agama yang bersangkutan.
Adapun kata religi berasal dari kata latin . Menurut satu pendapat, demikian Harun Nasution mengatakan, bahwa asal kata religi adalah relegere yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Tetapi menurut pendapat lain, kata itu berasal dari kata religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaran agama memang mempunyai sifat mengikat bagi manusia. Dalam agama selanjutnnya terdapat pula ikatan antara roh manusia dengan Tuhan. dan agama lebih lanjut lagi memang mengikat manusia dengan Tuhan.
Dari beberapa  definisi tersebut, akhirnya Harun Nasution menyimpulkan bahwa intisari yang terkandung dalam istliah-istilah di atas ialah ikatan. Agama memang mengandung arti ikatan yang harus di pegang dan dipatuhi  manusia. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. Satu kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap oleh pacaindera.
Adapun pengertian agama dari segi istilah dapat di kemukakan sebagai berikut. Elizabet K. Nottingham dalam bukunya Agama dan Masyarakat berpendapat bahwa agama adalah gejala yang begitu sering terdapat di mana-mana sehingga sedikit membantu usaha-usaha kita untuk memuat abstraksi ilmiah. Lebih lanjut Nottingham mengatakan bahwa agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya sendiri dan keberadaan alam semesta. Agama telah menimbulkan khayalanya yang paling luas dan juga digunkan untuk membenarkan kekejaman orang yang luar biasa terhadap orang lain. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan bathin yang paling sempurna dan juga perasaan takut dan ngeri.

Sementara itu durkheim mengatakan bahwa agama adalah pantulan dari solidaritas sosial. Bahkan , kalau dikaji, katanya , Tuhan itu sebenarnya adalah ciptaan masyarakat. Berkenaan dengan ini, Taufik Abdullah misalnya telah mengeritik pendapat Durkheim tentang agama sebagaimana di sebutkan di atas. Taufik Abdulah dalam hal ini mengatakan, pertama, ia (Durkheim)sampai pada kesimpulan tersebut karena ia hanya meneliti agama melalui tulisan-tulisan para pengembara misionaris dan kehidupan keagamaan pada suku-suku Aborijin di Australia yang di anggapnya paling murni. Sedangkan pengeretian saya adalah pada agama yang bersifat universal. kedua, Durkheim terlalu sekular bagi selera saya. Demikian Taufik Abdullah menilai. Selanjutnya karena demikian banyaknya definisi tentang agama yang dikemukakan para ahli, Harun Nasution mengatakan bahwa dapat di beri definisi sebagai berikut:
1.) Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang harus dipatuhi.
2.) Pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia.
4.) Kepercayaan pada suatu kekuatan ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
5.) Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari kekuatan ghaib.
6.) Pemujaan terhadap kekuatan ghaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam sekitar manusia.
7.) Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang rasul.
Selanjutnya, Taib Thahir Abduk Mu’in mengemukakan defnisi agama sebagai suatu peraturan Tuhan yang  mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal untuk dengan kehendak dan pilihannya sendiri mengikuti peraturan tersebut, guna mencapai kebahagian hidupnya di dunia dan akhirat.

B. LATAR BELAKANG PERLUNYA MANUSIA TERHADAP AGAMA
Sekurang-kurangnya ada beberapa alasan yang melatar belakangi perlunya manusia terhadap agama, beberapa alasan tersebut secara singkat dapat kita kemukakan sebagai berikut.
Latar Belakang Fitrah Manusia
Dalam bukunya berjudul Perspktif Manusia dan Agama, Murthada Muthahahhari mengatakan, bahwa di saat berbicara tentang para nabi, Imam Ali as . Menyebutkan bahwa mereka di utus untuk mengingatkan manusia kepada perjanjian yang telah di ikat oleh fitrah mereka, yang kelak mereka akan di tuntut untnk memenuhinya. Perjanjian iu tidak tercatat di atas kertas, tidak pula di ucapkan oleh lidah, melainkan terukir dengan pena ciptaan Allah swt di permukaan kalbu dan lubuk fitrah manusia, dan diatas permukaan hati nurani serta di kedalaman perasaan bathiniah. Dalam konteks ini kita misalnya membaca ayat yang berbunyi.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِدِّيْنِ حَنِىْفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ( الروم: 30 )
Hadapkanlah ucapanmu dengan lurus kepada agama allah, tetapkan lah atas fitrah allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrahnya ( QS Al-Rum, 30-30 ).
Adapun potensi fitrah beragama yang terdapat pada manusia tersebut dapat pula dianalisi dari istilah insan yang digunakan Alqur’an untuk menun jukkan manusia.
Mengaju pada informasi yang di berikan alqur’an, Musa As’ari sampai pada suatu kesimpulan, bahwa manusia insan adalah manusia yang menerima pelajaran dari Tuhan tentang apa yang tidak diketahui. Manusia insan secara kodrati sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna bentuknya dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya sudah dilengkapi dengan kemampuan mengenal dan memahami kebenaran dan kebaikan yang terpancar dari ciptaan-Nya. Lebih lanjutya, Musa Asy’ari mengatakan bahwa pengertian manusia yang disebut insan, yang dalam Alqu’an dipakai untuk menunjukan lapangan kegiatan manusia yang amar luas adalah terletak pada kemampuan menggunakan akalnya dan mewujudkan pengetahuan konseptualnya dalam kehidupan yang konkret.
Kelemahan dan Kekurangan Manusia
Faktor lainnya yang melatarbelakangi manusia memerlukan agama adalah karena di samping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan. Hal ini antara lain diungkapkan oleh kata al-nafs. Menurut Quraish Shihab, bahwa dalam pandangan alqur’an, nafs di ciptakan Allah dalam keadaan sempurna yang berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan. Pengertian nafs ini sama dengan yang terdapat daalm Kamus Umum Bahasa Indonesia yang antara lain menjelaskan bahwa nasf  adalah dorongan hati yang kuat untuk berbuat yang kurang baik.
Selanjutnya, Quraish Shihab mengatakan, walaupun Alqur’an menegaskan bahwa nafs bepotensi positif dan negatif, namun diperoleh pula isyarat bahwa pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat daripada potensi negatifnya, hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat daripada daya tarik kebaikan. Sifat-sifat yang cenderung kepada  keburukan yang ada pada manusia itu antara lain berlaku zhalim(aniaya),suka melampaui batas,sombong dan sebagainya. Karena itu manusia di tuntut agar memelihara kesucian nafs, dan tidak mengotorinya. Untuk menjaga kesucian nafs ini manusia harus selalu medekatkan diri pada Tuhan dengan bimbingan agama, dan di sinilah letakya kebutuhan manusia terhadap agama.
3.Tantangan Manusia
Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena manusia dalam kehidupan senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan syaitan. Sedangkan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia secara sengaja berupa ingin memalingkan manusia dari Tuhan. Mereka dengan rela mengeluarkan biaya, tenaga, dan pikiran yang di manifestasikan dalam berbagai bentuk kebudayaan yang di dalamnya mengandung misi menjauhkan manusia dari Tuhan. Kita misalnya membaca ayat yang berbunyi,

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنْفِقُوْ نَ أَمْوَا لَهُمْ لِيَصُدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ الله (الأنفال : 36)
Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi(orang) dari jalan Allah. (QS Al-Anfal, 8:36)
Orang-orang kafir itu sengaja mengeleluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mereka gunakan agar orang mengikuti keinginannya. Berbagai bentuk budaya, hiburan, obat-obat terlarang dan lain sebagainya di buat dengan sengaja. Untuk itu, upaya mengatasi dn membentengi manusia adalah dengan mengajar mereka agar taat menjalankan agama.
Melalui uraian agak panjang lebar itu kita sampai pada kesimpulan, bahwa latar belakang perlunya manusia pada agama adalah karena dalam diri  manusia sudah terdapat potensi untuk beragama. Potensi beragama ini memerlukan pembinaan, pengarahan, pengembangan, dan seterusnya dengan cara mengenalkan agama kepadanya.

BAB III
PENUTUP
                          
A.  Kesimpulan
Agama sangat di perlukan oleh manusia sebagai pegangan hidup sehingga ilmu dapat menjadi bermakna. Agama adalah kepercayaan akan adanya Tuhan yang menurunkan wahyu kepada para nabi-Nya untuk umat manusia demi kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Namun, secara naluri manusia mengakui kekuatan dalam kehidupan ini di luar dirinya. Dapat dilihat ketika manusia mengalami kesulitan hidup, musibah, dan berbagai bencana. Mansuia mengeluh meminta pertolongan kepada sesuatu yang serba maha, dan tantangan manusia. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka kebutuhan manusia akan agama Tuhan yang benar lebih besar daripada kebutuhannya akan unsur-unsur pertama untuk menjaga hidupnya seperti air, makanan dan udara. Manusia beragama karena memerlukan petunjuk-petunjuk untuk kebahagian hidupnya di dunia dan akhirat
DAFTAR PUSTAKA
Nata,Abuddin, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009).

Senin, 13 November 2017

ADAB BERCADAR

Dulu ana tak pernah melihat wanita yang mengenakan cadar menampilkan dirinya dimana-mana. Mereka tersembunyi, Dulu ana pun tak pernah melihat wanita mengenakan cadar berpakaian warna-warni dan berbunga-bunga. Mereka hanya berpakaian hitam, Tapi sekarang sungguh zaman nya sangat memalukan.. Seorang wanita bercadar yang dulunya sangat susah untuk dilihat, kini tinggal klik instagram dan facebook, maka keluarlah semua foto-foto wanita bercadar dengan bermacam-macam gaya Naudzubillah Disisi baiknya wanita-wanita yang belum mengenakan cadar memang termotivasi.
Namun disisi buruknya mereka mengenakan cadar tanpa ilmu.Tanpa mengetahui maksud dan tujuan mengenakan cadar itu apa Mereka menjalankan sunnah tapi mereka meninggalkan yang wajib Sifat malu itu wajib, tapi mereka tinggalkan dan pergi menjalankan yang sunnah karena sekarang memang lagi nge'trend nya. Bukan karena semata-mata karena ibadah, Ada sebagian dari mereka yang sudah tau apa gunanya cadar, tapi mereka tak perdulikan. Mereka lebih condong ke wanita-wanita yang meninggalkan rasa malu dari pada Sayyidatina Fathimah, seorang Ummahatul Mukminin yang mempunyai rasa malu yang sangat luar biasa, Mengapa wahai muslimah? Ada apa dengan diri enty? Mengapa enty menggunakan cadar tapi meninggalkan rasa malu? Sementara Sayyidatina Fathimah, menutup wajah nya karena rasa malu nya Sehingga ia selalu mengasingkan dirinya dari lelaki sekalipun lelaki itu butaTpi mengapa kita buat jadi terbalik. Kita menggunakan cadar bukan karna rasa malu melainkan karna sedang nge' trend dan ingin terpopuler dengan followers yg beribu. Rasa malu apa seperti ini? Enty fotokan diri enty, lalu enty tunjukkan di sosial media. Enty tulis tausiyah Kemudian beribu² mata telah mmandang foto enty, enty katakan, " Jadilah duri yg memagari diri. " Duri apa yang memagari diri enty? Smentara diri enty saja, enty perlihatkan kpd jutaan org dgn cadar enty sebenarnya siapa panutan enty? Jadi apa fungsi cadar enty? Menghindari perhatian laki2 atau malah sebaliknya .

semoga bermanfaat 😉

Mohon Maaf.

Sabtu, 11 November 2017

TENTANG AL-QUR'AN

                                
T : Berapa jumlah Surah dlm Al-Qur'an?
J : *114 Surah*

T : Berapa jumlah Juz dlm *Al-Qur'an?*
J : *30 Juz*

T : Berapa jumlah Hizb dlm *Al-Qur'an?*
J: *60 Hizb*

T: Berapa jumlah Ayat dlm *Al-Qur'an?*
J: *6666 Ayat*

T : Berapa jumlah Kata dlm *Al-Qur'an?*, dan Berapa Jumlah Hurufnya?
J: *77437 Kata, atau 77439 Kata dan 320670 Huruf*

T : Siapa Malaikat yang disebut  *Al-Qur'an?,*
J : *Jibril, Mikail, Malik, Raqib,* *Atiid,Malakulmaut, Harut, Marut, Al-Hafazoh, Al-Kiromulkatibun HamalatulArsy, dll.*

T : Berapa Jumlah Sajdah (ayat Sujud) dlm *Al-Qur'an?*
J : *15 Sajdah*

T : Berapa Jumlah para Nabi yg disebut dlm *Al-Qur'an?*
J : *25 Nabi*

T : Berapa Jumlah Surah Madaniyah dlm *Al-Qur'an?*, sebutkan.
J : *28 Surah, al-Baqoroh, al-Imron, al-Nisa" al-Maidah, al-Anfal, al-Tawbah, al-Ra'd, al-Haj, al-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Rahman, al-Hadid, al-Mujadilah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Shaf, al-Jum'ah, al-Munafiqun, al-Taghabun, al-Thalaq, al-Tahrim, al-Insan, al-Bayinah, al-Zalzalah, al-Nashr.*

T : Berapa Jumlah Surah Makiyah dlm *Al-Qur'an?* sebutkan.
J : *86 Surat*, selain surah tersebut di  atas.

T : Berapa Jumlah Surah yg dimulai dgn huruf dlm *Al-Qur'an?*
J : *29 Surah.*

T : Apakah yg dimaksud dgn *Surah Makiyyah?,* sebutkan 10 saja.
J : *Surah Makiyyah adalah Surah yg diturunkan di Makkah sebelum Hijrah, seperti: al-An'am, al-Araf, al-Shaffat, al-Isra', al-Naml, al-Waqi'ah, al-Haqqah, al-Jin, al-Muzammil, al-Falaq.*

T : Apakah yg dimaksud dgn *Surah Madaniyyah?* sebutkan lima saja?
J : *Surah Madaniyah adalah Surah yg diturunkan di Madinah setelah Hijrah, seperti: al-Baqarah, al-Imran, al-Anfal, al-Tawbah, al-Haj.*

T : Siapakah nama para Nabi yg disebut dlm *Al-Qur'an?*
J : *Adam, Nuh, Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, Musa, Isa, Ayub, Yunus, Harun, Dawud, Sulaiman, Yusuf, Zakaria, Yahya, Ilyas, Alyasa', Luth, Hud, Saleh, ZulKifli, Syuaib, Idris, Muhammad Saw.*

T : Siapakah satu-satunya nama wanita solehah yg disebut namanya dlm *Al-Qur'an?*
J : *Maryam binti Imran.*

T : Siapakah satu-satunya nama Sahabat yg disebut namanya dlm *Al-Qur'an?*
J : *Zaid bin Haritsah. Rujuk dlm surah Al Ahzab ayat 37.*

T : Apakah ayat dlm *Al-Qur'an* yg pertama kalil turun?
J : surah al alaq ayat 1-5 *( إقرأ باسم ربك الذي خلق)*

T : Apakah ayat terakhir yg turun dlm *Al-Qur'an?*
J : ayat 3 surah al maidah  *أليوم أكملت لكم دينكم وأ تممت عليكم نعمتي و رضيت لكم الإسلام دينا)*

T : Apakah nama Surah yg tanpa *Basmalah?*
J : *Surah at-Tawbah (baro'ah).*

T : Apakah nama Surah yg memiliki *dua Basmalah?*
J : *Surah al-Naml.*

T : Apakah yg disebut *surah al-mu'awidzatain (2 surah penjagaan)?*
J : *Surah Al-Falaq & An-Naas.*

T : Apakah nama Surah yg bernilai seperempat *Al-Qur'an?*
J : *Surah al-Kafirun.*

T : Apakah nama Surah yg bernilai sepertiga *Al-Qur'an?*
J : *Surah al-Ikhlas*

T : Apakah nama Surah yg menyelamatkan dari *siksa Qubur?*
J : *Surah al-Mulk*

T : Apakah nama Surah yg apabila dibaca pada *hari Jum'at* akan menerangi sepanjang pekan?
J : *Surah al-Kahfi*

T : Apakah ayat yg *paling Agung* dan dlm Surah apa?
J : *Ayat Kursi, dlm Surah al-Baqarah ayat No.255*

T : Apakah nama Surah yg *paling Agung* dan berapa jumlah ayatnya?
J : *Surah al-Fatihah, 7 ayat.*

T : Apakah ayat yg paling bijak dan dlm surah apa?
J : Firman Allah Swt :" Barang siapa yg melakukan kebaikan sebesar biji sawi ia akan lihat, Barang siapa melakukan kejahatan sebesar biji sawi ia akan lihat.. *(Surah al-Zalzalah ayat 7-8)*

T : Apakah nama Surah yg ada *dua sajdahnya?*
J : *Surah al-Haj ayat 18 dan ayat 77.*

T : Pada Kata apakah pertengahan *Al-Qur'an* itu di Surah apa? ayat no Berapa?
J : Surah Al Kahfi ayat no 19
:* وليتلطف*    

T : Ayat apakah bila dibaca setiap habis Sholat Fardhu dpt mengantarkannya masuk ke dalam surga?
J : Ayat Kursi.

T : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 31 kali dlm satu Surah dan di Surah apa?
J: Ayat فبأي آلاء ربكما تكذبانِ ) pada Surah al-Rahman.

T : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 10 kali dlm satu Surah dan di surah apa? Apakah ayat ini ada juga disebut dlm surah lainnya? Di Surah apa?
J : Ayat (ويل يومئذ للمكذبين) pada Surah al-Mursalat, juga ada dlm Surah al-Muthaffifiin ayat No. 10.

T : Apakah Ayat terpanjang dlm *Al-Qur'an?* pada Surah apa? Ayat berapa? Dan apa yang dibahas?
J: *Ayat No 282 Surah al-Baqarah,* membahas muamalah dg sesama manusia dlm keuangan& hutang piutang
----------------------------------------------------- 💫Bermesraan lah dengan Al Qur'an sebagaimana mesranya kita dgn dompet & gadget kita selama ini,  berdekatan lah dgn al quran sedekat kita dengan pasangan,anak-anak dan teman-teman kita hari ini...

💫Bersahabat lah dengan Nya...karena Al Qur'an tidak akan meninggalkan kita sbg _sahabat_ ketika yg lain berpaling, _dia akan datang sebagai syafaat bagi sahabat2 nya di akhirat kelak.

Senin, 06 November 2017

ORANG TERKEMUKA DALAM SEJARAH KALIMANTAN

                      DEMANG LEHMAN

  Salah seorang pahlawan rakyat kalimantan yang mengalami nasib seperti kapitan pattimura dari maluku, yaitu mati ditiang gantungan, ialah Demang Lehman. Perjuangannya yang gigih membela Pangeran Hidayat dan Pangeran Antasari pada pertengahan abad ke XIX itu, membuat namanya tidak pernah dilupakan oleh rakyat kalimantan. Terutama kata-kata ucapannya yang terakhir, bahwa : "tanah banjar harus disirami dengan darah dan air mata, demi untuk mengusir penjajah belanda", sampai sekarang ucapan itu masih tetap berkeras dan tidak akan hilang dari hati sanubari rakyat didaerah ini.

ASAL-USULNYA

  Demang Lehman dilahirkan sekitar tahun 1824 dikampung Riam-Kanan, Karang Intan, Martapura. Siapa nama orang tua nya belum diketahui dengan pasti. Tetapi menurut penuturan orang-orang tua, ayah nya berasal dari penduduk orang kampung Pakacangan di Amuntai, dan ibunya wanita dari karang intan.
  Sejak kecil ia dipanggikan dengan nama : IDIS. Tapi semenjak itu pula telah tampak sifat-sifat keberanian dan kecakapannya yang melebihi dari anak-anak teman sekampungnya.
  Dalam usia yang sangat muda, IDIS ini telah berhasil diangkat sebagai "lalawangan" (CAMAT) di Karang Intan, dengan nama baru : DEMANG LEHMAN. Jabatan tersebut diberikan oleh Pangeran Hidayat pada saat pembrontakan sudah mulai berkobar. Dan sebagai pengukuhan atas pengangkatan tersebut Pangeran Hidayat memberikan sebilah keris "si-singkir" dan sepucuk tombak "si-kali belah" kepadanya. Demang Lehman pun diberikan gelar Kiai Adipati Mangku Negara.

PERJUANGANNYA

  Tatkala meletus pemberontakan melawan belanda, yaitu diwaktu Pangeran Antasari mengepung Benteng Pengaron pada tanggal 28 April 1859, waktu itulah Demang Lehman mula-mula menunjukkan keberaniannya yang luar biasa. Ia memimpin serangan dari jurusan Riam-Kiwa yang cukup menggoncang serdadu Belanda.
  Dua bulan kemudian Demang Lehman berhasil menyusup kedalam keraton martapura yang waktu itu sedang diduduki Belanda. Bersama-sama dengan pahlawan Haji Nasrun ia dapat membunuh serdadu-serdadu Belanda dan merebut kembali keraton tersebut. Dll.

WAFATNYA

  Seorang bangsawan Arab yang bernama Syarif Hamid, telah menjadi kaki tangan Belanda, dan ia berusaha akan menjebak Demang Lehman. Syarif Hamid telah meminta bantuan Suku Dayak dan mereka inilah yang berhasil menipu Demang Lehman.
  Lebih dahulu mereka usahakan untuk menghindarkan keris dan tombak pusakanya yang dianggap keramat itu. Pada pagi buta, Demang Lehman sehabis sholat shubuh dan tiada bersenjata itu, telah dikeroyok oleh orang banyak. Walaupun ia telah mengamuk dengan pukulan-pukulan pencak silatnya, tetapi akhirnya dapat juga ia ditangkap. Seluruh badannya di ikat dengan rantai dan dengan tubuh yang biru lebam karena pukulan, ia dibawa kekota.
  Dengan susah payah akhirnya ia dapat juga dibawa ke Martapura. Penguasa Belanda di Martapura telah menetapkan suatu hukuman padanya, yakni hukuman mati. Dosanya sebagai pemberontak yang melawan pemerintahan Belanda, rupanya tiada ampunan.
  Menjelang tiba hukumannya itu, Demang Lehman selalu bersikap tenang dan tak putus-putusnya sholat. Hari-hari terakhir dari hayatnya digunakannya untuk bertaubat dan bersujud kepada Tuhan.
  Sampai pada hari vonnisnya dijatuhkan, yaitu pada tgl 27 Februari 1864, ia pun dinaikanlah ketiang gantungan. Berduyun-duyun khalayak ramai menyaksikan hukuman kejam itu, yang dilakukan ditanah lapang Martapura.
  Disela-sela sedu sedan dan tangis rakyat yang menyaksikan peristiwa tersebut, orang masih sempat mendengar ucapan-seruan Demang Lehman yang terakhir, "Dangar, dangar barataan!!! Banua Banjar lamun kahada lakas dipalas kawan banyu mata darah, marikit dipingkuti Wolanda !".
(dengar, dengar semua!!! Daerah Banjar kalau tidak disiram dengan air mata dan darah, akan tetap terus dijajah Belanda).

SEKIAN DARI SAYA CERITA SEORANG TERKEMUKA DIKALIMANTAN SELATAN YANG KITA KENAL DEMANG LEHMAN.

SETIA LAH PADA YANG MAHA KUASA MAKA ENGKAU AKAN MENDAPATKAN APA YANG KAU INGINKAN

Kadang kita tak tahu apa yang kita perbuat itu mendapatkan hasil atau tidak nya, disaat kita termenung, terdiam dll. Kita tak sadar bahwa disana banyak manfaat yang kita petik dan disana banyak kehidupan yang cenderung untuk masa depan kita... Kadang kita berfikir aku ingin jadi ini itu, tapi usaha kita kurang, semua itu kadang hanya sebelah mata kita memandang tanpa memandangkan nya kedepan bahwa kalau kita berusaha benar2 maka kita akan bisa jadi apa yang kita inginkan...

Wahai sahabat ku...

Kita sadari Bahwa Allah Telah Berjanji Barang siapa yang tunduk sama aku... Maka dunia pun akan tunduk pada mu, dan jika engkau tunduk sama dunia, maka dunia adalah tuhan mu.
Jangan sampai hal itu terjadi pada diri kita.

Sebuah cerita tentang Al Imam Ghazali R.A.
Beliau pernah ingin menyebrangi sebuah sungai disana hanya ada kapal kecil yang bila menaiki nya harus bayar, disaat itu seorang wali Allah Ta'ala itu tak sama sekali mempunyai uang untuk bayar menyebrang.
Singkat cerita, terjadi perbincangan antar sang pemilik kapal kecil dengan Al Imam Ghazali.
Al Imam : Apakah aku bisa ikut untuk menyebrang?
Pemilik kapal : Bisa asalkan kamu bayar sebesar $$$
Al Imam : Aku Tidak Mempunyai Uang, Bagaimana?
Pemilik Kapal : kalau kamu tak punya uang bagaimana kamu bisa menaiki kapal kecil ku untuk menyebrang
Al Imam : Mau Kah Engkau Wahai Pemilik Kapal Menunggu Aku Untuk Sholat 2 Raka'at?
Pemilik Kapal : Jangan Kan Engkau Sholat 2 Raka'at Mau Berapa Raka'at Pun Engkau Saat Asal Kau Bayar Untuk Naik Menyembarang Aku Tunggui.
Singkat Cerita. Akhirnya Beliau Al Imam Ghazali Sholat 2 Raka'at Setelah Selesai Beliau Berdo'a dan setelah itu beliau mengambil segenggam pasir yang berada di samping beliau.
Dan yang terjadi sangat lah tak disangka2 segumpalan pasir yang ada digenggaman al imam ghazali seketika itu berubah menjadi sebuah emas. Dan diberikan kepada pemilik kapal untuk menyebrang.
Al Imam : Apakah Ini cukup?
Pemilik kapal : Sudah Sempeyan naik kekapal saya, saya akan mengantar sempeyan kesebrang.

Subhanallah, inti dari cerita tadih adalah jangan lah engkau tunduk pada dunia. Sesungguh nya jika engkau tunduk pada yang maha kuasa dan yang maha kaya maka dunia akan tunduk pada mu.

Semoga dapat mengambil pelajaran.

Makasih sudah mampir untuk membaca nya.